Asal Bersama Sultan (ABS)
Oleh: Rahmat Hidayat Nasution
Membaca judul di atas, bisakah Anda menebak kalimat tersebut harapan siapa? Jika Anda bukan peminat berita-berita politik Indonesia tentunya tidak bisa menebak. Tapi Jika Anda peminat, otomatis lisan Anda mengatakan bahwa kata-kata di atas adalah harapan Megawati. Ya, ini asli datang dari sikap Megawati. Putri Bung Karno itu sedang menjalani hubungan dengan Sultan Hemengkubuwono X. Hubungan yang lebih dari kata sekedar teman biasa. Hubungan yang, barangkali, ingin membawa perubahan bagi bangsa Indonesia. Atau hubungan yang mengandung makna sama sekalipun posisi berbeda. Yaitu, agar bisa mendiami Istana Negara.
Kedekatan Megawati dengan Sultan kerap sering terdengar. Kabar terakhir yang paling senter adalah, ketika Sultan diundang Megawati kekediamannya untuk makan bubur bersama. Siapa pun bisa menebak bahwa ada sesuatu yang lebih penting yang dibicarakan dari sekedar sarapan bersama. Apalagi, pertemuan itu terjadi menjelang Rapat Kerja Nasional (Rakernas) IV PDIP.
Tahukah anda apa target Megawati dan PDIP di Pemilu 2009? Ingin jadi presiden. Benar. Semua orang tahu kalau itu memang target Megawati. Tapi sebenarnya, ada misi lain yang terjadi di balik ini. Apakah itu? Megawati dan PDIP sedang menyusun rencana bagaimana melengserkan SBY agar tidak menjadi presiden lagi.
Kalau sudah demikian, maka yang terbenam dalam konteks keinginan Megawati dan PDIP bagaimana mencari figur yang lebih pas dan kuat untuk menjadi tandingan SBY. Dengan melakukan analisis yang cermat terhadap calon-calon yang diperkirakan, terungkaplah nama Sultan Hemengkubuwono X sebagai tokoh yang paling cocok. Alasan memilih Sultan, karena memiliki mesin politik yang kuat, yaitu partai Golkar. Ini alasan pertamanya. Kedua, dengan menggaet Sultan diharapkan mampu menjaring suara yang banyak di saat pemilihan presiden.
Bukan hanya itu, satu manuver lagi yang cukup menarik dan dapat membuat kita tercengan adalah, Megawati siap memberikan jatah capres kepada Sultan asalkan cawapresnya dari PDIP. Anda terkejut, bukan? Bagaimana bisa? Jawabannya, karena Megawati memang bersikeras untuk tetap bersama Sultan sekaligus dengan maksud tersembunyi ingin melengserkan SBY. Pokoknya, asal bersama Sultan.
Sultan yang dijagokan Megawati dan PDIP tidak boleh bersenang diri dulu. Karena PDIP dan Megawati baru akan memberikan jatah capres kepada Sultan jika mampu melobi Golkar, agar pencalonannya mendapatkan dukungan penuh. Jika ini tidak tercapai, cukup sulit bagi Sultan untuk mendapatkan jatah istimewa yang diberikan PDIP.
Maka, tak heran jika kita melihat Sultan mulai lebih merapat lagi ke Partai berlambang pohon beringin, Golkar. Bahkan, di berbagai media politik, seperti situs inilah.com, banyak diberitakan bahwa Sultan secara resmi sudah mengirimkan surat kepada Dewan Penasehat Partai Golkar, Surya Paloh dan Ketua Umum, Yusuf Kalla.
Jika ditelusuri lebih jauh lagi, menduetkan Megawati dan Sultan ini sudah lama tersusun. Jauh-jauh hari Taufik Kemas sudah menyusun skenario ini dengan Surya Paloh saat keduanya bertemu di Medan pada 20 Juni 2007. Secara gamblang, Surya Paloh mengajak Taufik Kemas untuk mengkampanyekan agar pada Pemilu 2009 memilih Golkar dan PDIP.
Rencana duetnya partai besarnya ini tampaknya bakal berjalan mulus. Apalagi, munculnya polemik baru antara Partai Demokrat dan Partai Golkar. Bakal hancurnya rencana duet SBY-JK part II. Bukan hanya itu, jauh sebelum pernyataan fungsionaris Partai Demokrat Achmad Mubarak mencela Partai Golkar dengan memprediksikan perolehan suara Golkar kecil di Pemilu 2009, tanggal 17 januari 2009 lalu Jusuf Kalla menghadiri promosi doktor salah satu fungsionaris Golkar, Idris Marham, ia begitu menyanjung Sultan. Klimaksnya, Jusuf Kalla memberi ‘kesan’ kalau Sultan ingin tampil jadi capres atau cawapres, JK siap mendukung.
Andaikan Sultan Dijadikan Capres PDIP
Jika Sultan tampil sebagai Capres dengan terjadinya duet Golkar dan PDIP, siapakah yang mendampingi Sultan? Isu santer mengatakan, jika Sultan jadi capres maka yang menjadi wakilnya adalah kader PDIP yang masih muda. Salah satunya adalah Puan Maharani, putri Megawati.
Putri Megawati ini dinilai sebagai salah satu kader muda PDIP yang kompeten. Hal itu terakam jelas dengan keberaniannya bersaing dengan Hidayat Nur Wahid di dapil Jawa Tengah V. Lepas dari itu, keinginan PDIP untuk melengserkan SBY juga tetap menjadi gelora baru dalam duet Sultan-Puan nantinya.
Sekalipun warna politik PDIP di Pemilu 2009 ini sedikit mengalami perubahan tampaknya harus lebih banyak mempertimbangkan lagi. Pasalnya, jangan sampai duet Mega-Sultan atau Sultan-Puan menuai kembali kegagalan seperti di Pilpres 2004 lalu. Duet Mega-Hasyim di Pilpres 2004 dinilai tidak sinergis. Selain karena PDIP tidak mendapatkan dukungan suara lebih diluar Jawa, ditambah lagi ketika itu mesin politik yang digunakan Hasyim di pulau Jawa tak mampu berjuang maksimal untuk mendapatkan suara pendukung yang banyak bagi Mega-Hasyim.
Di sisi lain, niat Megawati untuk tetap bersama Sultan sejatinya dapat mematikan pergerakan Sultan. Peluang Sultan untuk digaet partai lain pun semakin kecil. Inilah ujian pertama untuk menilai sikap Sultan. Apakah hanya ingin tetap setia dengan Megawati dan PDIP ataukah melirik-lirik partai lain sebelum ‘janur’ Pilpres 2009 ditegakkan? Inilah kerja berat tim sukses Sultan.
Dan, ini juga menjadi kunci bagi Megawati dan PDIP untuk kembali menilai masa depan bersama Sultan. Jangan hanya ambisi “Asal Bersama Sultan” menjadikan PDIP tidak bisa memperjuangkan nasib rakyat. Dikotomi jawa-luar jawa tetap menjadi penilaian penting, terlebih untuk pemilih yang diluar pulau Jawa. Karena pendukung Megawati tak hanya berpusat di pulau Jawa.
Alhasil, keinginan Megawati untuk kembali ke Istana baru akan berjalan mulus jika manuver-manuver yang dibangunnya bersama Sultan solid dan teruji. Karena SBY bukanlah pesaing yang mudah untuk ditaklukkan. Konsetrasi penuh untuk menggolkan “Asal Bersama Sultan” membutuhkan perjuangan yang cukup berat. Perjuangan yang lebih dari sekedar menang di Pilpres 2009.