Opinipolitik’s Weblog

Februari 21, 2009

Ke Lain Hati

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — opinipolitik @ 12:23 am

Ke Lain Hati
Oleh: Rahmat Hidayat Nasution

Revo mencibir keras seperti orang mengejek sambil lalu memindahkan chanel tivinya ketika iklan Partai Demokrat mengklaim bahwa SBY telah membuat perubahan selama menjabat Presiden. Cowok berambut keriting itu bukanlah pembenci SBY. Tapi, ia benci ketika Partai Demokrat mengklaim kesuksesan pemerintahan SBY seperti olahan tangan mantan menteri era Megawati itu sendiri. Jasa para menterinya yang membantunya hampir lima tahun seperti tidak dinilai.

Sambil mencari chanel tivi yang seru dan layak tonton. Ia menekan tombol lima yang merupakan chanel SCTV. Di pagi itu, ada acara Inbox yang sedang menampilkan grup Band Elkasih menyanyikan lagu “Kau Tigakan Cintaku”. Sambil menikmati lagu ini, entah kenapa ia teringat dengan Yusuf Kalla, wakil Presiden RI sekarang. Dipahaminya lirik demi lirik yang dinyanyikan group band Elkasih. Spontanitas ia menjerit kencang, “Jusuf Kalla cocok menyanyikan lagu ini.”

Papanya yang sedang membaca tabloid Indonesia Monitor edisi 34 di ruang tengah cukup terkejut, “Vo, ada apa sih? Kok berisik sekali! Dengerin lagu kok bawa-bawa namanya Yusuf Kalla.”
“Ini Pa. Lagu Elkasih yang judulnya “Kau Tigakan Cintaku” , menurut Revo cocok dinyanyikan Yusuf Kalla.”
“Kok kamu berani bilang gitu?” Tanya papanya penuh heran
“Gimana enggak, Pa? Coba deh Papa dengar baik-baik lirik reff-nya, “Aku tertipu kediamanmu. Yang ku anggap semuanya baik-baik saja. Ku tak menyangka dibelakangku Kau tigakan cintaku yang hanya kepadamu”. Nah, coba deh Papa liat di tabloid Indonesia Monitor edisi 33 ada berita tentang SBY bakal melupakan JK. Ada sinyal kalau SBY bakal ke lain hati. Padahal, JK itu kan sudah serius banget ingin tetap bersama SBY membangun bangsa ini lima tahun lagi.”
“Tapi, Vo. Itukan masih berita. Masih serba kemungkinan. Mana ada yang bisa jamin kalau mereka bakal bersama lima tahun mendatang.” Jawab papa sambil membawa teh hangatnya mendekati Revo
“Pa, kalau menurut Revo. JK itu hanya dimanfaatin saja saat ini. Mirip kayak pisang gitu, Pa. Kalau isinya bagus diambil. Kalau jelek dibuang dan parahnya lagi kulitnya pun dianggap nggak bermanfaat lagi.”
“Kok JK disamakan ama Pisang. Nggak boleh gitu, Vo!” Papa Revo mulai membolak balik kembali lembaran tabloid Indonesia Monitor.
“Pa, Revo bukan bilang JK itu pisang. Tapi, nasibnya JK itu kan kayak gitu. Liat deh, Pa. Waktu BBM dinaikkan, siapa sih yang menghadapi massa? Jusuf Kalla kan. Tapi, ketika menurunkan BBM kok SBY sendiri yang bilang, Jusuf Kallanya nggak diikutkan. Bukan itu saja, Pa. Setelah melihat syarat untuk menjadi pemenang pemilu cukup berat. Partai Demokrat yang mengusung SBY kok tiba-tiba menghina Golkar dengan mengatakan bahwa Golkar hanya akan mendapat suara kecil. “
“Wah, anak Papa kok sudah mahir politik ya. Kamu belajarnya di mana, Vo?” canda papanya untuk menetralkan suasana.
“Pa, sudah saatnya tuh anak muda ikut memikirkan bangsa. Revo merasa miris saja kalau sudah tua masih bernafsu meraih jabatan. Nah, SBY itu menurut Revo cocoknya nggak usah mencalonkan diri jadi Presiden lagi. Beri kesempatan kepada yang muda. Kan masih ada Andi Malarangeng tuh di partai Demokrat. Masalah wibawa, kan nggak jauh beda dengan SBY.”
“Terus, kamu nggak setuju SBY jadi presiden lagi?”
“itu sih haknya SBY, Pa. Aku kan hanya komentar. Maunya kalau memang ingin tampil lagi jangan banyak-banyak berjanji. Jangan menganggap keberhasilan itu milik sendiri. Dan juga jangan sampai mengkhianati kawan donk. Papa liat aja sendiri, JK sudah berusaha mati-matian membela SBY. Bahkan, JK nggak malu membuktikan pembelaan itu dihadapan rekan-rekannya di Partai Golkar. Sekarang terdengar isu SBY bakal meninggalkan JK dan beralih ke Sri Mulyani, menteri keuangan yang merangkap Plt menteri perekonomian.”
“Nggak masalahkan kalau Sri Mulyani mendampingi SBY. Sama-sama pintar masalah ekonomikan? Emang kamu melihat ada perbedaan antara JK dan Sri Mulyani, Vo?”
“Menurut Revo, tentu ada, Pa. Di antaranya, keuangan international seperti IMF, World Bank akan begitu senang jika SBY duet dengan Sri Mulyani. Karena Sri Mulyani itukan tipe orang text book, Pa. Langkah-langkah yang dilakukannya mudah terbaca. Beda sekali dengan JK, Pa. Dia itu orang yang punya banyak ide, yang menurut perekonomian International cukup berbahaya. Coba deh Papa perhatikan, SBY duet dengan JK keuangan International seperti IMF kurang begitu berhasil menancapkan pengaruhnya di Indonesia. Keuangan International tidak begitu banyak membentuk pencitraan.”
“Wah, anak Papa hebat juga ya analisis politiknya. Papa jadi bangga punya anak seperti kamu.” Sanjung Papanya sambil meneguk teh hangat.
“Menurut papa, SBY bakal tega nggak meninggalkan Yusuf Kalla?”
“Ya, semua itu bisa saja terjadi. Tapi, kalau SBY berpisah sama JK. Partai Demokrat yang mengusung SBY jadi presiden harus bekerja keras, Vo.”
“Maksudnya bekerja keras gimana, Pa?” Tanya Revo kembali dengan antusias seakan-akan komentar Papanya lebih menyenangkan dari mendengarkan lagu Gelora Asmara.
“Kalau dengan Golkar, Partai Demokrat bakalan mungkin mendapat suara lumayan lebih tinggi dari partai lain. Karena Partai Golkar itu partai lama. Tentunya, masih banyak simpatisan yang bakal memilihnya. Kalau Partai Golkar dan Partai Demokrat “bercerai”, paling tidak SBY dan Partai Demokrat membutuhkan tiga partai tengah untuk mendapat tambahan suara agar memperoleh tiket di Pilpres 2009. Paling tidak, dapat sepuluh persen suara dari partai lain. Itu pun jika perolehan suara Partai Demokrat masih seperti pemilu 2004 yang lalu. “
“Kalau gitu, kudunya SBY itu memikirkan khasiat JK, ya kan Pa! Soalnya kalau sudah salah pilih nanti menyesal. Karena nggak akan mungkin lagi bisa bersama.”
“Revo, kamu kok kayaknya menganggap mereka kayak suami-isteri. Ini politik, Vo. Yang namanya politik itu hasratnya hanya ingin menang.” Jawab Papanya sambil berjalan ke dapur untuk menaruh gelas tehnya yang sudah habis.

Februari 16, 2009

Asal Bersama Sultan (ABS)

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — opinipolitik @ 2:50 am
Tags: , , , ,

Asal Bersama Sultan (ABS)
Oleh: Rahmat Hidayat Nasution

Membaca judul di atas, bisakah Anda menebak kalimat tersebut harapan siapa? Jika Anda bukan peminat berita-berita politik Indonesia tentunya tidak bisa menebak. Tapi Jika Anda peminat, otomatis lisan Anda mengatakan bahwa kata-kata di atas adalah harapan Megawati. Ya, ini asli datang dari sikap Megawati. Putri Bung Karno itu sedang menjalani hubungan dengan Sultan Hemengkubuwono X. Hubungan yang lebih dari kata sekedar teman biasa. Hubungan yang, barangkali, ingin membawa perubahan bagi bangsa Indonesia. Atau hubungan yang mengandung makna sama sekalipun posisi berbeda. Yaitu, agar bisa mendiami Istana Negara.

Kedekatan Megawati dengan Sultan kerap sering terdengar. Kabar terakhir yang paling senter adalah, ketika Sultan diundang Megawati kekediamannya untuk makan bubur bersama. Siapa pun bisa menebak bahwa ada sesuatu yang lebih penting yang dibicarakan dari sekedar sarapan bersama. Apalagi, pertemuan itu terjadi menjelang Rapat Kerja Nasional (Rakernas) IV PDIP.

Tahukah anda apa target Megawati dan PDIP di Pemilu 2009? Ingin jadi presiden. Benar. Semua orang tahu kalau itu memang target Megawati. Tapi sebenarnya, ada misi lain yang terjadi di balik ini. Apakah itu? Megawati dan PDIP sedang menyusun rencana bagaimana melengserkan SBY agar tidak menjadi presiden lagi.
Kalau sudah demikian, maka yang terbenam dalam konteks keinginan Megawati dan PDIP bagaimana mencari figur yang lebih pas dan kuat untuk menjadi tandingan SBY. Dengan melakukan analisis yang cermat terhadap calon-calon yang diperkirakan, terungkaplah nama Sultan Hemengkubuwono X sebagai tokoh yang paling cocok. Alasan memilih Sultan, karena memiliki mesin politik yang kuat, yaitu partai Golkar. Ini alasan pertamanya. Kedua, dengan menggaet Sultan diharapkan mampu menjaring suara yang banyak di saat pemilihan presiden.

Bukan hanya itu, satu manuver lagi yang cukup menarik dan dapat membuat kita tercengan adalah, Megawati siap memberikan jatah capres kepada Sultan asalkan cawapresnya dari PDIP. Anda terkejut, bukan? Bagaimana bisa? Jawabannya, karena Megawati memang bersikeras untuk tetap bersama Sultan sekaligus dengan maksud tersembunyi ingin melengserkan SBY. Pokoknya, asal bersama Sultan.
Sultan yang dijagokan Megawati dan PDIP tidak boleh bersenang diri dulu. Karena PDIP dan Megawati baru akan memberikan jatah capres kepada Sultan jika mampu melobi Golkar, agar pencalonannya mendapatkan dukungan penuh. Jika ini tidak tercapai, cukup sulit bagi Sultan untuk mendapatkan jatah istimewa yang diberikan PDIP.

Maka, tak heran jika kita melihat Sultan mulai lebih merapat lagi ke Partai berlambang pohon beringin, Golkar. Bahkan, di berbagai media politik, seperti situs inilah.com, banyak diberitakan bahwa Sultan secara resmi sudah mengirimkan surat kepada Dewan Penasehat Partai Golkar, Surya Paloh dan Ketua Umum, Yusuf Kalla.
Jika ditelusuri lebih jauh lagi, menduetkan Megawati dan Sultan ini sudah lama tersusun. Jauh-jauh hari Taufik Kemas sudah menyusun skenario ini dengan Surya Paloh saat keduanya bertemu di Medan pada 20 Juni 2007. Secara gamblang, Surya Paloh mengajak Taufik Kemas untuk mengkampanyekan agar pada Pemilu 2009 memilih Golkar dan PDIP.

Rencana duetnya partai besarnya ini tampaknya bakal berjalan mulus. Apalagi, munculnya polemik baru antara Partai Demokrat dan Partai Golkar. Bakal hancurnya rencana duet SBY-JK part II. Bukan hanya itu, jauh sebelum pernyataan fungsionaris Partai Demokrat Achmad Mubarak mencela Partai Golkar dengan memprediksikan perolehan suara Golkar kecil di Pemilu 2009, tanggal 17 januari 2009 lalu Jusuf Kalla menghadiri promosi doktor salah satu fungsionaris Golkar, Idris Marham, ia begitu menyanjung Sultan. Klimaksnya, Jusuf Kalla memberi ‘kesan’ kalau Sultan ingin tampil jadi capres atau cawapres, JK siap mendukung.

Andaikan Sultan Dijadikan Capres PDIP

Jika Sultan tampil sebagai Capres dengan terjadinya duet Golkar dan PDIP, siapakah yang mendampingi Sultan? Isu santer mengatakan, jika Sultan jadi capres maka yang menjadi wakilnya adalah kader PDIP yang masih muda. Salah satunya adalah Puan Maharani, putri Megawati.

Putri Megawati ini dinilai sebagai salah satu kader muda PDIP yang kompeten. Hal itu terakam jelas dengan keberaniannya bersaing dengan Hidayat Nur Wahid di dapil Jawa Tengah V. Lepas dari itu, keinginan PDIP untuk melengserkan SBY juga tetap menjadi gelora baru dalam duet Sultan-Puan nantinya.

Sekalipun warna politik PDIP di Pemilu 2009 ini sedikit mengalami perubahan tampaknya harus lebih banyak mempertimbangkan lagi. Pasalnya, jangan sampai duet Mega-Sultan atau Sultan-Puan menuai kembali kegagalan seperti di Pilpres 2004 lalu. Duet Mega-Hasyim di Pilpres 2004 dinilai tidak sinergis. Selain karena PDIP tidak mendapatkan dukungan suara lebih diluar Jawa, ditambah lagi ketika itu mesin politik yang digunakan Hasyim di pulau Jawa tak mampu berjuang maksimal untuk mendapatkan suara pendukung yang banyak bagi Mega-Hasyim.

Di sisi lain, niat Megawati untuk tetap bersama Sultan sejatinya dapat mematikan pergerakan Sultan. Peluang Sultan untuk digaet partai lain pun semakin kecil. Inilah ujian pertama untuk menilai sikap Sultan. Apakah hanya ingin tetap setia dengan Megawati dan PDIP ataukah melirik-lirik partai lain sebelum ‘janur’ Pilpres 2009 ditegakkan? Inilah kerja berat tim sukses Sultan.

Dan, ini juga menjadi kunci bagi Megawati dan PDIP untuk kembali menilai masa depan bersama Sultan. Jangan hanya ambisi “Asal Bersama Sultan” menjadikan PDIP tidak bisa memperjuangkan nasib rakyat. Dikotomi jawa-luar jawa tetap menjadi penilaian penting, terlebih untuk pemilih yang diluar pulau Jawa. Karena pendukung Megawati tak hanya berpusat di pulau Jawa.

Alhasil, keinginan Megawati untuk kembali ke Istana baru akan berjalan mulus jika manuver-manuver yang dibangunnya bersama Sultan solid dan teruji. Karena SBY bukanlah pesaing yang mudah untuk ditaklukkan. Konsetrasi penuh untuk menggolkan “Asal Bersama Sultan” membutuhkan perjuangan yang cukup berat. Perjuangan yang lebih dari sekedar menang di Pilpres 2009.

Blog pada WordPress.com.