Membaca Peluang SBY 2009
Oleh: H. Rahmat Hidayat Nasution, Lc
Di penghujung Ramadhan kemarin, SBY menyatakan siap mempertahankan jabatannya untuk kembali maju dalam Pilpres 2009. Pernyataannya tersebut menimbulkan multi pertanyaan. Masih pantaskah SBY jadi presiden lagi? Alasan apa yang melatarbelakanginya untuk tampil di Pilpres 2009? Partai-partai manakah yang sudi mendukungnya? Bergandengan dengan siapakah SBY di Pilpres 2009 nantinya? Jawabannya amat subjektif. Tiap partai pasti akan mempertimbangkan kinerja SBY selama lima tahun ini.
Di antara partai yang sudah dipastikan mendukung SBY adalah Partai Demokrat. Partai ini langsung menyambut gembira pernyataan SBY akan tampil lagi di Pilpres 2009. Karena perjalanan SBY memimpin lima tahun, menurut Partai Demokrat, belumlah cukup untuk bisa merubah bangsa ini ke arah yang lebih baik.
Keinginan SBY untuk tampil lagi sebagai presiden merupakan hal yang wajar, karena perjalanan yang dilaluinya sebagai Presiden belumlah begitu maksimal. Namun yang menjadi titik perhatian kita saat ini, kenapa partai-partai pendukung SBY di Pilpres 2004 nyaris tidak satu pun sudi mendukung SBY sebagai presiden kembali? Tak mungkin tidak ada asap kalau tidak ada api. Tak mungkin SBY ‘ditalak’ partai-partai pendukungnya dulu kalau tidak memiliki masalah yang signifikan.
Kilas Balik
Saat Pilpres 2004, kunci sukses SBY menjadi presiden adalah dukungan massa Islam, baik dari kalangan ulama hingga partai dan organisasi berbasis massa Islam seperti PKS, PPP dan PBB. Kini, para pendukung SBY tersebut sudah mulai menyatakan tidak akan bersama SBY lagi di Pilpres 2009. Ada yang merasa sakit hati, ada yang menilai SBY lemah, lambat dan tidak bertanggungjawab, bahkan ada yang menilai SBY lupa kacang pada kulitnya.
Para Kiai dan Ulama NU yang dulu mendukung SBY di Pilpres 2004 kini sudah mendirikan partai sendiri, yaitu PKNU. Dukungan para Kiai dan Ulama tersebut cukup besar pengaruhnya, karena SBY mampu mendapatkan suara besar di lumbung suara Mega-Hasyim yang menjadi pesaingnya saat itu. Apa alasan para Kiai dan Ulama tersebut menjauhi dan tidak simpatik lagi dengan SBY?
Di tabloid Indonesia Monitor edisi 7 yang terbit di Jakarta memuat berita tentang kekecawaan para Kiai terhadap SBY. Kekecawaan terbesar adalah SBY tidak komitmen dengan janji dan kata-kata yang diucapkannya kepada para kiai sebelum dirinya terpilih sebagai presiden. Di tabloid tersebut, dimuat percakapan SBY dengan KH. Chotib Umar melalui ponsel. KH. Chotib menceritakan bahwa SBY dalam percakapan tersebut mengatakan amalan wirid yang disampaikan kepada masih terus dijalankannya, dan jika terpilih SBY janji akan segera mengundang KH. Chotib Umar dan beberapa kiai lainnya ke Jakarta. Selama empat tahun menjadi presiden, kata KH. Chotib Umar, SBY tidak pernah menyambangi para kiai yang menjadi kunci suksesnya di Pilpres 2004. SBY lupa diri dan tidak komitmen dengan janji-janjinya untuk menjadikan para kiai sebagai penasehat. Padahal, tanpa ada peran kiai dan ulama dukungan masyarakat Jawa Timur tidak akan mungkin sebesar yang diperoleh SBY saat Pilpres 2004.
Sebagaimana disebutkan di atas, bahwa selain dukungan para Kiai dan Ulama NU, SBY juga didukung tiga parpol Islam: PPP, PKS dan PBB. Jika mengikuti alur perjalanan politik ketiga parpol tersebut, kelihatannya ketiga pertai tersebut juga mulai menarik diri dan menjauhi SBY.
Diawali oleh PKS yang diam-diam, dapat dikatakan, menabuh genderang perang dengan SBY. Hal itu terbaca dari wacana capres “Balita (Bawah 50 tahun)” yang didengung-dengungkan Ketua Umum PKS, Tifatul Sembiring. Wacana ini saja sudah jelas menjegal SBY untuk dipastikan masuk dalam kandidat capres PKS, karena usia SBY saat ini sudah 59 tahun.
Selain itu, PKS juga sudah memproklamirkan sejak dini, jika memperoleh 20 persen suara dalam Pemilu Legeslatif dipastikan akan mempunyai capres sendiri dari tubuh PKS. Bukan hanya itu saja, PKS juga menilai pembangunan ekonomi di bawah kepemimpinan SBY belum membuahkan hasil memuaskan, malah cenderung rapuh.
Begitu juga dengan PBB. Sejak diberhentikannya Yusril Ihza Mahendra dari Kabinet Indonesia Bersatu (KIB), PBB merasa dikhianati SBY, karena Yusril Ihza Mahendra adalah kader terbaik dan bahkan ikon partai.. Pemecatan Yusril bagi PBB adalah penghinaan besar. Sebagai bentuk perlawanan, PBB jauh-jauh hari sudah menyatakan akan mencapreskan Yusril Ihza Mahendra di Pemilu 2009.
PPP memang belum menunjukkan tanda mendukung atau menarik diri dari SBY. Tapi, melihat gerak PPP yang sering “latah” ikut-ikutan belakang ini, penulis menilai mereka juga akan menjauh dari SBY. Latahnya PPP cukup terlihat dari ikut-ikutan memasukkan caleg artis. Maka bisa diasumsikan juga akan latah untuk tidak mendukung SBY, jika melihat tidak begitu banyaknya partai lain yang mendukung.
Selain tiga parpol berasas Islam yang dulu mendukung SBY, partai nasionalis seperti Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI) juga sudah kelihatan menjauhi SBY. Gerak penolakan dukung SBY terlihat jelas dengan sudah menetapkan capres dari PKPI adalah Meutia Hatta Swasono.
Duet SBY- JK
Selain memproklamirkan diri siap untuk mencalonkan diri sebagai presiden, SBY juga menyatakan kemungkinan akan tetap berpasangan dengan Yusuf Kalla. Pernyataan SBY tersebut juga laik menimbulkan aneka penafsiran. Bisa jadi bertujuan agar visi, misi dan program yang telah digagas dan dirintis selama ini akan lebih terjamin pelaksanaannya untuk lima tahun mendatang. Bisa jadi juga pernyataan SBY tersebut sebagai basa-basi politik saja untuk menjaga stabilitas pemerintahan dan kabinet. Selain itu, bisa jadi juga sebagai langkah untuk memetakan pola koalisi, dengan tujuan mengetes langkah-langkah dan memancing manuver dari elite politik lain untuk melakukan pemetaan lebih jelas lagi.
Jika ditinjau dari komentar-komentar para partisan di tubuh Golkar sendiri, selaku partai yang dipimpin Yusuf Kalla, pernyataan SBY memberi kesan terlalu dini. Meskipun sehari setelah SBY menyatakan akan menggandeng Yusuf Kalla mendapatkan gayung bersambut dari Yusuf Kalla sendiri. Karena, dalam tubuh Golkar penetapan akankah Golkar mencalonkan presiden atau wakil presiden akan dibicarakan dalam rapat pimpinan khusus atau konvensi yang biasanya diadakan setelah pemilu legeslatif.
Hemat penulis, pernyataan SBY untuk tetap berpasangan dengan Yusuf Kalla memang terlalu dini. Karena tidak tertutup kemungkinan SBY akan memilih orang lain yang lebih menjanjikan dari segi popularitas dan mesin politik. Selain itu, pernyataan SBY menggandeng kata “kemungkinan” yang menunjukkan kata ketidakpastian, bahkan cenderung masih pendapat pribadi, bukan partai.
Selain itu, posisi incumbent SBY juga mengandung kerawanan untuk bisa maju di Pilpres dan rentan kalah. Hal ini bisa berkaca dari posisi Megawati di Pilpres 2004. Saat putri Bung Karno itu maju, ia mengalami kekalahan karena tidak mampu menggunakan posisi incumbent-nya secara optimal. Program-programnya dirasakan kurang menyentuh rakyat dan tidak ada gebrakan-gebrakan yang fenomenal.
Jika SBY tidak melakukan perubahan yang luar biasa dalam konteks kinerja pemerintahan dan kepemimpinan politik bakal bernasib sama dengan Megawati di Pilpres 2004. Yang dibutuhkan SBY saat ini, hanya terobosan-terobosan politik yang sangat meyakinkan. Kalau gayanya begini-begini saja, penulis menilai peluangnya mungkin akan berat.
Pesaing SBY
Selain permasalahan di atas, yang menjadi perhatian SBY untuk berpeluang menjadi presiden lagi adalah mewaspadai kekuatan capres lain, baik wajah lama seperti Megawati, Wiranto maupun wajah baru seperti Sri Sultan Hemengku Buwono X, Prabowo Sugianto, Hidayat Nur Wahid. Mereka sudah memiliki popularitas yang cukup kuat dan mesin politik yang tangguh. Prabowo Sugianto misalnya, tren popularitasnya makin meningkat seiring gencarnya iklan dalam kapasitas sebagai Ketua Umum Himpunan Kerukunan Tani Indonesia. Demikian juga Sri Sultan Hemengku Buwono X memiliki tren popularitas yang cukup diperhitungkan, meskipun belum menyatakan diri untuk maju sebagai capres. Lain lagi dengan Hidayat Nur Wahid, Ia tergolong capres muda potensial, popularitasnya cukup kuat dan juga memiliki kenderaan politik yang jelas.
Dari beberapa gambaran di atas, terjawablah sudah peluang SBY. Tanpa adanya perubahan yang luar biasa dalam kinerja pemerintahan dan kepemimpinan politiknya saat ini, peluang SBY untuk jadi presiden lagi cukup sulit. Kecuali dia mampu menggandeng Cawapres dari partai besar, seperti Golkar, PDIP, PKS.
Penulis adalah Pemerhati Politik Indonesia
(Artikel ini sudah dimuat di harian Waspada Medan)