Akhir-akhir ini, masyarakat Indonesia “sibuk” disuguhkan oleh maraknya tayangan iklan politisi di televisi. Pagi, siang, malam, mereka terus muncul di televisi, bagaikan punya energi tak terbatas. Seolah-olah hidup ini hanya untuk beriklan. Materi iklan juga harus diperbaharui sesuai momen yang ada. Ada iklan menggandeng anak-anak berprestasi, terkait 17 Agustus, iklan puasa, Sumpah Pemuda, Tahun Baru dan lain-lain. Apakah fenomena capres kita ini sudah terjangkit virus idolisasi, mencari jalan pintas untuk menjadi terkenal tanpa membuktikan kemampuan diri?
Ironisnya, Presiden SBY yang seharusnya fokus pada pekerjaannya menjalankan tugas negara, malah masih ikut-ikutan mengiklankan partainya. Padahal, selama ini SBY sering kali mencitrakan dirinya sebagai orang yang non paritisan, berdiri di atas semua golongan, mendahulukan kepentingan bangsa dan negara dibandingkan dengan partai. Bahkan, SBY pernah mempublikasikan bahwa ia akan menjaga jarak dengan Partai Demokrat. Jadi saat ini, menurut penulis, kesannya SBY takut ketinggalan kereta, padahal Pemilu masih tahun depan. Luar biasa!
Tampaknya, para capres sangat yakin, beriklan di televisi merupakan cara paling ampuh guna mengenalkan wajah mereka kepada masyarakat. Tujuannya, tak lain dan tak bukan hanya untuk mencari simpati masyarakat guna menghadapi Pilpres 2009. Tapi, apakah cara ini akan berhasil? Menurut penulis, cara ini malah membuat timbulnya sinisme masyarakat bahwa tujuan para capres hanya untuk mempopulerkan diri saja.
Bahkan, gara-gara iklan ini layak diusulkan agar aliran dana yang digunakan untuk beriklan harus diusut. Jangan-jangan hasil money loundring, korupsi, mafia BLBI atau bandar judi/narkoba. Kenapa harus dilakukan? Alasannya, uang yang digelontorkan untuk keperluan iklan televisi dapat dipastikan cukup besar. Atau barang kali, ramainya beriklan disponsori oleh invesor asing dengan membawa misi empat agenda dalam lima tahun ke depan, tepatnya saat menjabat nanti. Tahun pertama, sibuk konsolidasi dan belajar. Tahun kedua, sibuk bayar utang ke investor. Tahun ketiga dan keempat, sibuk bikin program. Tahun kelima, sibuk mengumpulkan modal untuk kampanya capres lagi.
Padahal, yang dibutuhkan publik saat ini, menurut penulis, adalah langsung ke-perbuatan nyata. Mengalihkan dana iklan untuk membangun sekolah gratis, buku gratis atau membantu rakyat miskin yang kekurangan gizi, misalnya. Atau bisa jadi, ramainya orang beriklan dapat membuat kekhawatiran baru, yaitu iklan capres dapat menggeser acara hiburan/lawak. Bahkan, bisa jadi sang capres juga sudah bersiap untuk menjadi pelawak.
Terlepas dari itu semua, tampaknya banyak capres yang belum menyadari bahwa saat ini masyarakat, utamanya di perkotaan, sudah melek politik. Masyarakat telah memiliki referensi dalam menentukan pilihan politiknya. Dari mana masyarak mempelajarinya? Sudah tentu masyarakat belajar dari pemilihan presiden masa lalu. Masyarakat kini lebih memilih cara pandang atau gagasan capres guna membawa bangsa ke arah yang lebih baik. Bukan karena kegagahan atau pintar bicara. Karena itu, sebanyak dan sehebat apa pun iklan politik seorang capres di televisi, belum tentu mampu mempengaruhi pilihan politik seseorang. Masyarakat telah memiliki jejak recam capres yang akan dipilih dan tentunya tak mau masuk dalam lubang yang sama untuk kedua kali.
Penulis adalah Pemerhati Politik Indonesia
(Sumber inspirasi Tabloid Indonesia Monitor)